Personality Development


 1. Berfikir Positif
 


A. Berpikir positif adalah cara berpikir secara logis yang memandang sesuatu dari segi positifnya baik terhadap dirinya sendiri, orang lain, maupun keadaan lingkungannya . Sehingga, ia tidak akan putus asa atas masalah yang dihadapinya dan mudah dalam mencari jalan keluarnya. Berpikir positif merupakan suatu kesatuan yang terdiri dari tiga komponen, yaitu muatan pikiran, penggunaan pikiran, dan pengawasan pikiran.

1. Muatan Pikiran Berpikir positif merupakan usaha mengisi pikiran dengan berbagai hal yang positif atau muatan yang positif. Menurut Ubaedy, muatan positif untuk pikiran adalah berbagai bentuk pemikiran yang memiliki kriteria:
  1. Benar (tak melanggar nilai-nilai kebenaran),
  2. Baik ( bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan), dan
  3. Bermanfaat (menghasilkan sesuatu yang berguna).
  4. Penggunaan Pikiran
Memasukkan muatan positif pada ruang pikiran merupakan tindakan positif namun, tindakan tersebut berada pada tingkatan yang masih rendah jika muatan positif tersebut tidak diwujudkan dalam tindakan nyata. Oleh karena itu, isi muatan yang positif tersebut perlu diaktualisasikan ke dalam tindakan agar ada dampak yang ditimbulkan.

2. Pengawasan Pikiran Dimensi ketiga dari berpikir positif adalah pengawasan pikiran. Aktivitas ini mencakup usaha untuk mengetahui muatan apa saja yang dimasukkan ke ruang pikiran dan bagaimana pikiran bekerja. Jika diketahui terdapat hal-hal yang negatif ikut masuk ke ruang pikiran maka perlu dilakukan tindakan berupa mengeluarkan hal-hal yang negatif tersebut dengan menggantinya dengan yang positif. Demikian pula jika ternyata teridentifikasi bahwa pikiran bekerja tidak semestinya maka dilakukan usaha untuk memperbaiki kelemahan atau kesalahan tersebut.
Berpikir positif bukan merupakan tujuan melainkan suatu jalan untuk mencapai tujuan. Menjadikan berpikir positif sebagai tujuan memang membawa manfaat tetapi manfaat tersebut belumlah seberapa jika dibandingkan dengan manfaat yang didapat jika berpikir positif dijadikan sebagai suatu jalan. Bertolak belakang dengan optimisme, pandangan pesimisme akan menganggap kegagalan dari sisi yang buruk. Umumnya seorang pesimis sering kali menyalahkan diri sendiri atas kesengsaraannya. Ia menganggap bahwa kemalangan bersifat permanen dan hal itu terjadi karena sudah nasib, kebodohan, ketidakmampuan, atau kejelekannya. Akibatnya, ia pasrah dan tidak mau berupaya.


2.Manajemen Waktu
Time Management atau Manajemen Waktu pada dasarnya adalah kemampuan kita dalam merencanakan, mengorganisasikan dan mengaturkan waktu yang akan dihabiskan untuk melakukan kegiatan tertentu secara efektif  demi untuk mencapai Tujuan kita.
 

Dalam Manajemen waktu, diperlukan tekad kita dalam mengikuti semua perencanaan dan tidak boleh menyia-yiakan waktu meskipun waktu yang singkat. Kegagalan yang sering terjadi dalam manajemen waktu adalah kebiasaan-kebiasaan buruk seperti suka menunda-nunda pekerjaan dan kurangnya kontrol diri. Beberapa kegiatan penting yang berkaitan dengan Manajemen Waktu diantaranya seperti perencanaan untuk masa depan, menetapkan tujuan yang akan dicapai, memprioritaskan tugas-tugas dan juga memantau waktu-waktu yang telah dialokasikan sehingga dapat diselesaikan tepat waktu sesuai dengan tempo waktu yang ditentukan.
Sistem Manajemen Waktu atau Time Management merupakan kombinasi dari berbagai perancangan proses, alat, metode maupun teknik. Dalam menyelesaikan Proyek tertentu, Manajemen waktu merupakan suatu keharusan karena Manajemen Waktu ini menentukan kapan suatu proyek akan dimulai dan kapan pula proyek tersebut harus diselesaikan.  Dalam perihal penyelesaian Proyek, kita dapat menggunakan Gantt Chart dalam perencanaan dan pemantauan proyek yang akan dimulai atau yang sedang berjalan.
Pada awalnya Manajemen Waktu hanya diterapkan pada pekerjaan atau usaha dalam menyelesaikan Proyek-proyek yang berkaitan dengan bisnis. Namun saat ini, Manajemen waktu telah diperluas cakupannya hingga pada kehidupan pribadi kita sendiri.
Dalam kehidupan pribadi, Manajemen Waktu tentunya bukan semua waktu kita semata-mata dialokasikan untuk bekerja dan pencapaian tujuan. Tetapi juga ada waktu yang direncanakan untuk beristirahat, berkencan dengan keluarga, berkumpul dengan sahabat serta waktu-waktu untuk rekreasi atau refreshing.
Jika kita dapat mengelola waktu dengan baik, maka kita akan mendapatkan beberapa keuntungan sebagai berikut ini :

  • Mencapai Produktivitas dan Efisiensi yang lebih besar
  • Memiliki reputasi professional yang lebih baik
  • Tekanan atau Stress akan berkurang
  • Meningkatkan peluang dalam mencapai kesuksesan
  • Memiliki keseimbangan dalam kehidupan
  • Kesempatan karir yang lebih baik
Tetapi sebaliknya, Manajemen Waktu yang buruk akan mengakibatkan konsekuensi sebagai berikut  :

  • Melewati batas waktu yang ditentukan (deadlines)
  • Work flow atau alur kerja yang kurang efisien
  • Kualitas kerja yang buruk
  • Memiliki Reputasi profesional yang negatif
  • Meningkatkan Stress atau tekanan kerja maupun kehidupan sehari-hari
  • Ketidakseimbangan kehidupan akan terjadi
  • Kesempatan karir yang stagnan atau mungkin akan menurun
Sesuatu yang perlu kita ketahui, Sibuk bukan berarti efektif. Terkadang, seseorang yang sangat sibuk tetapi hasil yang dicapainya sangatlah kurang. Hal ini dikarena kemampuan Manajemen Waktu yang buruk sehingga pekerjaan-pekerjaan yang dilakukannya tidak sesuai dengan batas waktu yang diharapkannya. Oleh karena itu, salah satu kunci kesuksesan pribadi maupun bisnis adalah bagaimana kita mengelola waktu kita sebagai salah satu sumber daya yang terbatas ini untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat tanpa menyia-nyiakan 

3. kecerdasan sosial


Hasil gambar untuk pengertian kecerdasan sosial

Kecerdasan sosial merupakan kecerdasan yang mencakup interaksi kelompok dan erat kaitannya sosialisasi. Kemampuan untuk mengenal diri sendiri dan untuk mengetahui orang lain adalah bagian yang tak terpisahkan dari kondisi manusia.
Menurut Buzan, kecerdasan sosial adalah ukuran kemampuan diri seseorang dalam pergaulan di masyarakat dan kemampuan berinteraksi sosial dengan orang-orang di sekeliling atau sekitarnya.
Suean Robinson Ambron (1981) mengartikan sosialisasi itu sebagai proses belajar yang membimbing seseorang ke arah perkembangan kepribadian sosial sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan efektif. (Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, hal.123).
Stephen Jay Could, On Intelligence, Monash University: 1994, menjelaskan bahwa kecerdasan sosial merupakan suatu kemampuan untuk memahami dan mengelola hubungan manusia. Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. (Ubaydillah, diakses dari http://www.e-psikologi.com).
Menurut Amstrong,1994, Komponen penting membangun kecerdasan sosial (social intelegence) adalah komunikasi dan pendidikan. Kecerdasan sosial adalah kematangan kesadaran pikiran dan budi pekerti untuk berperan secara sosial dalam kelompok atau masyarakat. (dr. Rinaldi Nizar, sp. Ank, diakses dari http://www.infonarkoba.com).
Pakar psikologi pendidikan Gadner (1983) menyebut kompetensi sosial itu sebagai social intellegence atau kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial merupakan salah satu dari sembilan kecerdasan (logika, bahasa, musik, raga, ruang, pribadi, alam, dan kuliner) yang berhasil diidentifikasi oleh Gadner. (Sumardi, diakses dari http://www.kompas.com)
Menurut definisi asli Edward Thorndike, kecerdasan sosial adalah kemampuan untuk memahami dan mengelola pria dan wanita, anak laki-laki dan perempuan, untuk bertindak bijaksana dalam hubungan manusia. Hal ini setara dengan kecerdasan interpersonal, salah satu jenis kecerdasan yang diidentifikasi dalam Howard Gardner ‘s Teori kecerdasan ganda , dan erat terkait dengan teori pikiran .
Menurut Sean Foleno, kecerdasan sosial adalah kemampuan seseorang untuk memahami dirinya atau lingkungannya secara optimal dan bereaksi dengan tepat untuk melakukan sosial sukses.
Definisi Teoritis
Kecerdasan sosial adalah kemampuan yang mencapai kematangan pada kesadaran berpikir dan bertindak untuk menjalankan peran manusia sebagai makhluk sosial di dalam menjalin hubungan dengan lingkungan atau kelompok masyarakat.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat dipahami bahwa kecerdasan sosial sangatlah penting dalam menunjang kehidupan bermasyarakat, sukses tidak identik dengan kemampuan IQ, karena sesungguhnya kecerdasan sosial-lah yang sangat berperan besar dalam kehidupan. Banyak orang yang IQ nya diatas rata-rata mampu menggapai kesuksesan dengan meningkatkan kemampuan social intelligence ini.
Komponen dan Indikator Social Intelligence
a. SI (Social Intelligence) internal

  • Keinginan untuk bersosial dari dalam diri
  • Menjalin hubungan yang baik dengan orang lain
  • Mengorbankan kepentingan diri demi orang lain
b. SI (Social Intelligence) eksternal

  • Adanya pengaruh untuk bersosialisasi
  • Menyelesaikan permasalahan dalam berinteraksi Sosial
  • Bersosial karena adanya faktor yang lain (supaya mendapat sanjungan dan pujian dari orang lain)
Model Social Intelligence Menurut Para Ahli

Pada tahun 2005, Karl Albrecht mengusulkan sebuah model social intelligence yang terdiri dari lima poin dalam bukunya Social Intelligence: Ilmu Baru Sukses, yaitu “SPACE”
1) Situational awareness (kesadaran Situasional)
2) Presence (Kehadiran)
3) Authenticity (Keaslian)
4) Clarity (Kejelasan)
5) Empathy (Empati)
Penulis sains populer Daniel Goleman mengusulkan bahwa kecerdasan sosial terdiri dari:

  • kesadaran sosial (termasuk empati dan kognisi sosial )
  • fasilitas sosial (termasuk sinkroni, presentasi-diri , pengaruh , dan kepedulian)
Pengaruh Social Intelligence terhadap Kesuksesan

Sosial IQ adalah ukuran kecerdasan sosial. IQ Sosial didasarkan pada 100 titik skala, dimana 100 adalah skor rata-rata dan 140 (di atas 140) dianggap sangat tinggi. Sosial IQ diukur dengan teknik tanya jawab. Orang dengan IQ sosial yang rendah akan dianggap anak-anak dan belum dewasa, bahkan jika orang yang berusia dewasa. Cara yang baik untuk mengukur IQ Sosial adalah dengan menggunakan sistem IQ dasar, disesuaikan dengan keterampilan sosial. Kebanyakan orang memiliki IQ sosial 85-115.
Orang dengan IQ sosial di bawah 80 mungkin memiliki gangguan spektrum autisme, seperti sindrom Asperger dan skizofrenia. Orang-orang ini mungkin mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan memerlukan pelatihan keterampilan sosial atau dukungan tambahan dari spesialis jiwa. Orang-orang ini sulit mendapatkan pekerjaan karena mereka tidak memiliki komunikasi interpersonal yang diperlukan dan keterampilan sosial untuk sukses dalam angkatan kerja. Orang-orang ini dapat bekerja dengan baik dalam pekerjaan meja kantor, pekerjaan rumah atau pekerjaan yang tidak memerlukan banyak interaksi, seperti konstruksi.
Orang dengan IQ sosial atas 120 dianggap sangat sosial terampil dan menyesuaikan diri dengan baik, dan bisa bekerja dengan baik dengan pekerjaan yang melibatkan kontak langsung dan komunikasi dengan orang-orang.

4. Kesiapan Menghadapi Tantangan

Hasil gambar untuk pengertian kesiapan menghadapi tantangan

Adversity berasal dari bahasa inggris yang artinya kesulitan, kesengsaraan, atau kemalangan. Tetapi jika diartikan menurut Rifameutia (Reni Akbar Hawadi, 2002: 195) istilah adversity dalam kajian psikologi didefinisikan sebagai tantangan dalam kehidupan. Pengertian secara utuh menurut Nashori (2007: 47) bahwa:
Adversity Quotient adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan kecerdasannya untuk mengarahkan, mengubah cara berfikir dan tindakannya ketika menghadapi hambatan dan kesulitan yang bisa menyengsarakan dirinya.

Disimpulkan juga secara singkat oleh ahli lain yang menyatakan:

Adversity Quotient sebagai kemampuan seseorang untuk menghadapi masalah –Leman (2007: 115).

Ahli yang mengenalkan pertama kali Adversity Quotient ini juga berpendapat:

Adversity Quotient adalah suatu kemampuan untuk mengubah hambatan menjadi suatu peluang keberhasilan mencapai tujuan –Stoltz (2000).

Hasil dari tercapainya tujuan nantinya akan menjadi kesuksesan bagi individu itu sendiri. Menurut Stoltz(2000: 12) AdversityQuotient tersebut dapat terwujud dalam tiga bentuk, yaitu:

  1. Kerangka kerja konseptual yang baru untuk memahami dan meningkatkan semua segi kesuksesan.
  2. Suatu ukuran untuk mengetahui respon seseorang terhadap kesulitan, dan
  3. Serangkaian alat untuk memperbaiki respon seseorang terhadap kesulitan.

         Jadi, dari beberapa pendapat ahli dapat kita simpulkan bahawa Adversity Quotient merupakan kesiapan setiap individu dalam menghadapi masalah, tantangan, hambatan, serta kesulitan. Kesiapan tersebut bisa menggunakan kecerdasan yang dimiliki setiap individu yang nantinya akan mencapai keberhasilan suatu tujuan berupa kesuksesan.

             Untuk lebih mudah memahami adversity quotient bisa dengan contoh cerita seperti berikut:

              “Ada dua orang perawat di suatu Rumah Sakit X. Mereka mendapat tantangan yang sama berupa pasien yang sedang menderita penyakit Y dan tingkah laku si pasien tersebut sangat menguji kesabaran kedua perawat itu. Dari awal di hadapkan dengan pasien, sudah terlihat respon yang berbeda dari setiap individu perawat itu. Perawat pertama merasa tidak sanggup merawat pasien yang ia hadapi sehingga ia hanya merawat pasien tersebut dengan seadanya dan ia menyerah begitu saja tanpa ada usaha untuk bisa merawat pasien itu dengan baik. Itu karena dari awal dipikirannya sudah tertanam “sepertinya aku tidak bisa dan aku tidak mungkin bisa merawatnya dengan baik”. Sedangkan perawat kedua tidak mengatakan bahwa ia tidak bisa merawat pasiennya dengan baik, tetapi ia sadar akan kekurangannya sebagai manusia yang tidak boleh mengatakan tidak bisa sebelum mencoba. Oleh sebab itu ia berusaha mencari bantuan/bimbingan perawat lain yang lebih senior dan paham untuk membantunya agar dapat merawat pasien tersebut dengan sangat baik. Akhirnya ia bisa merawat pasien itu dengan baik hingga pasien sembuh. Karena mahasiswa kedua itu dari awal sudah mempunyai prinsip bahwa “Jangan pernah menyerah sebelum berusaha. Pasti ada hasil yang memuaskan bagi orang yang ingin bersungguh-sungguh”.

          Dapat disimpulkan bahwa dari kedua perawat tersebut ada peredaan yang nyata dari tingkat kesiapan dalam menghadapi tantangan yang ada. Perawat kedua jauh lebih memiliki kesiapan yang tinggi dibandingkan dengan perawat yang pertama.


5. Kecerdasan Emosi
Hasil gambar untuk pengertian kecerdasan emosional


Akar kata emosi adalah movere, kata kerja Bahasa Latin yang berarti “menggerakkan, bergerak”, ditambah awalan “e” untuk memberi arti “bergerak menjauh”, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi (Goleman,2007:7). Dalam kamus besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antar sesama manusia, makhluk lain dan alam sekitar (Pusat Bahasa Depdiknas, 2007:209) Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai : “himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.” (Shapiro, 1998:8). Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional. Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan. (Shapiro, 1998-10). Daniel Goleman (2007:411) menganggap emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecendrungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan hati seseorang, seingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong untuk menangis. Mengelompkokan emosi dalam golongan-golongan (Goleman, 2007:411) yaitu : a. Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan. b. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, depresi berat. c. Rasa takut : cemas, takut, gugup khawatir, waswas, perasaan takut sekali, khawatir, waspada, sedih, tidak tenang, ngeri d. Kenikmatan : bahagia, gembira, ringan, puas, riang, senang, terhidup, bangga, kenikmatan, indrawi, takjub, rasa terpesona, rasa terpesona. e. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, kasih. f. Terkejut : terkejut, terkesiap, takjub, terpana. g. jengkel : hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, mau muntah. h. malu : rasa salah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, dan hati hancur lebur. Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada. Dalam The Nicomachean Ethics, pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter, dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik, akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu sering kali terjadi. Sebagaimana dikemukakan oleh Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikannya (Goleman, 2007 : xvi) Menurut Mayer (Goleman, 2007 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalaha, dan pasrah. Dengan demikian maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadi sia-sia. Menurut Dr. Damasio, otak emosional sama terlibatnya dalam pemikiran seperti halnya keterlbatan otak nalar. Oleh karena itu, emosi sangat penting bagi rasionalitas. Dalam liku-liku perasaan dengan pikiran, kemampuan emosional membimbing keputusan kita dari saat ke saat, bekerja bahu membahu dengan pikiran rasional, mendayahgunakan atau tidak mendayahgunakan pikiran-pikiran itu sendiri. Demikian juga, otak nalar memainkan peran eksekutif dalam emosi kita kecuali pada saat-saat emosi mencuat lepas kendali dan otak emosional berjalan tak terkendalikan. Dalam artian kita mempunyai dua otak, dua pikiran dan dua kecerdasan yang berlainan : kecerdasan rasional dan kecerdasan emosional. Keberhasilan kita dalam kehidupan ditentukan oleh keduanya tidak hanya IQ tetapi kecerdasan emosional-lah yang memegang peranan. Sungguh, intelektual tak dapat bekerja dengan sebaik-baiknya tanpa kecerdasan emosional (Goleman, 2007 : 38) Faktor Kecerdasan Emosional Goleman mengutip Salovey (Goleman, 2007 : 58-59) menempatkan kecerdasan pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional yang dicetuskannya, seraya memperluas kemampuan ini menjadi lima wilayah utama : 1. Mengenali Emosi Diri Kesadaran diri mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal penting bagi wawasan psikologi dan pemahaman diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan kita yang sesungguhnya atas pengambilan keputusan-keputusan masalah pribadi. 2. Mengelola Emosi Kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang timbul karena gagalnya keterampilan emosional dasar ini. Orang-orang yang buruk kemampuannya dalam keterampilan ini akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung, sementara mereka yang pintar dapat bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan kejatuhan dalam kehidupan. 3. Memotivasi Diri Sendiri Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri sendiri dan untuk berkreasi. Kendali diri emosional menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang. Orang-orang yang memiliki keterampilan ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apapun yang mereka kerjakan. 4. Mengenali Emosi Orang Lain Empati, kemampuan yanh juga bergantung pada kesadaran diri emosional, merupakan keterampilan bergaul. Orang yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain. 5. Membina Hubungan Seni membina hubungan, sebagian besar, merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain. Ini merupakan keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antar pribadi. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan ini akan sukses dalam bidang apapun yang mengandalkan pergaulan yang mulus dengan orang lain mereka adalah bintang-bintang pergaulan. Tidak seperti IQ. Kecerdasan emosional ini dapat meningkat dan terus ditingkatkan sepanjang kita hidup. (Agustian, 2002 : lii). Pakar EQ, Goleman berpendapat bahwa meningkatkan kualitas kecerdasan sangat berbeda dengan IQ. IQ umumnya tidak berubah selama kita hidup, maka kecakapan emosi dapat dipelajari kapan saja (Agustian, 2002 : lii) Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah kemampuan siswa untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.

Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap

Akar kata emosi adalah movere, kata kerja Bahasa Latin yang berarti “menggerakkan, bergerak”, ditambah awalan “e” untuk memberi arti “bergerak menjauh”, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi (Goleman,2007:7). Dalam kamus besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antar sesama manusia, makhluk lain dan alam sekitar (Pusat Bahasa Depdiknas, 2007:209) Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai : “himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.” (Shapiro, 1998:8). Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional. Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan. (Shapiro, 1998-10). Daniel Goleman (2007:411) menganggap emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecendrungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan hati seseorang, seingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong untuk menangis. Mengelompkokan emosi dalam golongan-golongan (Goleman, 2007:411) yaitu : a. Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan. b. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, depresi berat. c. Rasa takut : cemas, takut, gugup khawatir, waswas, perasaan takut sekali, khawatir, waspada, sedih, tidak tenang, ngeri d. Kenikmatan : bahagia, gembira, ringan, puas, riang, senang, terhidup, bangga, kenikmatan, indrawi, takjub, rasa terpesona, rasa terpesona. e. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, kasih. f. Terkejut : terkejut, terkesiap, takjub, terpana. g. jengkel : hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, mau muntah. h. malu : rasa salah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, dan hati hancur lebur. Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada. Dalam The Nicomachean Ethics, pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter, dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik, akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu sering kali terjadi. Sebagaimana dikemukakan oleh Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikannya (Goleman, 2007 : xvi) Menurut Mayer (Goleman, 2007 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalaha, dan pasrah. Dengan demikian maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadi sia-sia. Menurut Dr. Damasio, otak emosional sama terlibatnya dalam pemikiran seperti halnya keterlbatan otak nalar. Oleh karena itu, emosi sangat penting bagi rasionalitas. Dalam liku-liku perasaan dengan pikiran, kemampuan emosional membimbing keputusan kita dari saat ke saat, bekerja bahu membahu dengan pikiran rasional, mendayahgunakan atau tidak mendayahgunakan pikiran-pikiran itu sendiri. Demikian juga, otak nalar memainkan peran eksekutif dalam emosi kita kecuali pada saat-saat emosi mencuat lepas kendali dan otak emosional berjalan tak terkendalikan. Dalam artian kita mempunyai dua otak, dua pikiran dan dua kecerdasan yang berlainan : kecerdasan rasional dan kecerdasan emosional. Keberhasilan kita dalam kehidupan ditentukan oleh keduanya tidak hanya IQ tetapi kecerdasan emosional-lah yang memegang peranan. Sungguh, intelektual tak dapat bekerja dengan sebaik-baiknya tanpa kecerdasan emosional (Goleman, 2007 : 38) Faktor Kecerdasan Emosional Goleman mengutip Salovey (Goleman, 2007 : 58-59) menempatkan kecerdasan pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional yang dicetuskannya, seraya memperluas kemampuan ini menjadi lima wilayah utama : 1. Mengenali Emosi Diri Kesadaran diri mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal penting bagi wawasan psikologi dan pemahaman diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan kita yang sesungguhnya atas pengambilan keputusan-keputusan masalah pribadi. 2. Mengelola Emosi Kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang timbul karena gagalnya keterampilan emosional dasar ini. Orang-orang yang buruk kemampuannya dalam keterampilan ini akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung, sementara mereka yang pintar dapat bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan kejatuhan dalam kehidupan. 3. Memotivasi Diri Sendiri Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri sendiri dan untuk berkreasi. Kendali diri emosional menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang. Orang-orang yang memiliki keterampilan ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apapun yang mereka kerjakan. 4. Mengenali Emosi Orang Lain Empati, kemampuan yanh juga bergantung pada kesadaran diri emosional, merupakan keterampilan bergaul. Orang yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain. 5. Membina Hubungan Seni membina hubungan, sebagian besar, merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain. Ini merupakan keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antar pribadi. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan ini akan sukses dalam bidang apapun yang mengandalkan pergaulan yang mulus dengan orang lain mereka adalah bintang-bintang pergaulan. Tidak seperti IQ. Kecerdasan emosional ini dapat meningkat dan terus ditingkatkan sepanjang kita hidup. (Agustian, 2002 : lii). Pakar EQ, Goleman berpendapat bahwa meningkatkan kualitas kecerdasan sangat berbeda dengan IQ. IQ umumnya tidak berubah selama kita hidup, maka kecakapan emosi dapat dipelajari kapan saja (Agustian, 2002 : lii) Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah kemampuan siswa untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.

Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap



 Apa itu Kecerdasan Emosi/Emotional Intelligence (EI) ?

Menurut Cooper dan Sawaf (1999) kecerdasan emosi adalah kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koreksi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari. Dimana kecerdasan emosi juga merupakan kemampuan untuk menggunakan emosi secara efektif untuk mencapai tujuan untuk membangun produktif dan meraih keberhasilan. (Setiawan, 2001)

Ada lima wilayah utama dalam EI, yakni : mengenali emosi diri, mengendalikan emosi diri, memotivasi diri, mengenali emos orang lain dan membina hubungan dengan orang lain.

Aspek Apa Saja yang Terdapat dalam Kecerdasan Emosi?

Aspek – aspek kecerdasan emosi menurut Rakhmat, 1985 adalah sebagai berikut:

a. Pengelolaan diri
Mengandung arti bagaimana seseorang mengelola diri dan perasaan-perasaan yang dilaminya.
b. Kemampuan untuk memotivasi diri
Kemampuan ini berguna untuk mencapai tujuan jangka panjang, mengatasi setiap kesulitan yang dialami bahkan untuk melegakan kegagalan yang terjadi.
c. Empati
Empati ini dibangun dari kesadaran diri dan dengan memposisikan diri senada, serasa dengan emosi orang lain akan membantu anda membaca dan memahami perasaan orang lain tersebut.
d. Ketrampilan sosial
Merupakan ketrampilan yang dapat dipelajari seseorang semenjak kecil mengenai pola-pola berhubungan dengan orang lain.

Apa Saja Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosi?

Walgito (1993) membagi faktor yang mempengaruhi pesepsi menjadi dua faktor yaitu:
a. Faktor Internal.
Faktor internal adalah apa yang ada dalam diri individu yang mempengaruhi kecerdasan emosinya. Faktor internal ini memiliki dua sumber yaitu segi jasmani dan segi psikologis. Segi jasmani adalah faktor fisik dan kesehatan individu, apabila fisik dan kesehatan seseorang dapat terganggu dapat dimungkinkan mempengaruhi proses kecerdasan emosinya. Segi psikologis mencakup didalamnya pengalaman, perasaan, kemampuan berfikir dan motivasi.
b. Faktor Eksternal.
Faktor ekstemal adalah stimulus dan lingkungan dimana kecerdasan emosi berlangsung. Faktor ekstemal meliputi: 1) Stimulus itu sendiri, kejenuhan stimulus merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam memperlakukan kecerdasan emosi tanpa distorsi dan 2) Lingkungan atau situasi khususnya yang melatarbelakangi proses kecerdasan emosi. Objek lingkungan yang melatarbelakangi merupakan kebulatan yang sangat sulit dipisahkan.
Sementara Goleman (1997) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional seseorang yaitu:
c) lingkungan keluarga. kehidupan keluarga merupakan sekolah pertama dalam mempelajari emosi. d) lingkungan non keluarga, hal ini yang terkait adalah lingkungan masyarakat dan pendidikan. Kecerdasan emosi ini berkembang sejalan dengan perkembangan fisik dan mental anak. Anak berbakat perlu bantuan untuk mengatasi emosi mereka agar tidak mengganggu proses kreativitas. (Suharman, 2002)

Bagaimana Meningkatkan Kecerdasan Emosi?

1. Membaca situasi

Dengan memperhatikan situasi sekitar Anda, Anda akan mengetahui apa yang harus dilakukan. 
2. Mendengarkan dan menyimak lawan bicara
Anda yang selalu merasa benar punya kecenderungan untuk tidak mendengarkan kata orang lain. Luangkan waktu untuk melakukannya, maka Anda akan tahu apa yang sebenarnya terjadi. 
3. Siap berkomunikasi
Jurus ini memang paling ampuh. Lakukan selalu komunikasi biar pun pada situasi sulit. 
4. Tak usah takut ditolak
Ada kalanya orang ragu-ragu bertindak karena takut ditolak orang lain. Sebelum berinisiatif, sebenarnya Anda cuma punya 2 pilihan: diterima atau ditolak. Jadi, siapkan saja diri Anda. Yang penting, usaha. 
5. Mencoba berempati
EQ tinggi biasanya didapati pada orang-orang yang mampu berempati atau bisa mengerti situasi yang dihadapi orang lain. Caranya, apalagi kalau bukan mendengarkan dengan baik ? 
6. Pandai memilih prioritas
Ini perlu supaya Anda bisa memilih pekerjaan apa yang mendesak, dan apa yang bisa ditunda. 
7.Siap mental
Sikap mental tempe itu sudah ketinggalan zaman. Situasi apa pun yang akan dihadapi, Anda mesti menyiapkan mental sebelumnya. Ingat, tak ada kesukaran yang tak bisa ditangani. Paling tidak, Anda sudah berusaha. 
8.Ungkapkan lewat kata-kata
Bagaimana orang bisa membaca pikiran Anda kalau Anda diam seribu bahasa? Ungkapkan pikiran Anda lewat kata-kata yang jelas. 
9. Bersikap rasional
Betul, kecerdasan emosi berhubungan dengan perasaan. Tapi, tetap memerlukan pola pikir yang rasional, apa lagi dalam pekerjaan. 
10. Fokus
Konsentrasikan diri Anda pada suatu masalah yang perlu mendapat perhatian. Jangan memaksa diri melakukannya dalam 4-5 masalah secara bersamaan. Dua atau 3 mungkin masih bisa ditangani, tapi lebih dari itu, Anda bisa kehabisan energi.



Akar kata emosi adalah movere, kata kerja Bahasa Latin yang berarti “menggerakkan, bergerak”, ditambah awalan “e” untuk memberi arti “bergerak menjauh”, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi (Goleman,2007:7). Dalam kamus besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antar sesama manusia, makhluk lain dan alam sekitar (Pusat Bahasa Depdiknas, 2007:209) Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai : “himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.” (Shapiro, 1998:8). Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional. Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan. (Shapiro, 1998-10). Daniel Goleman (2007:411) menganggap emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecendrungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan hati seseorang, seingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong untuk menangis. Mengelompkokan emosi dalam golongan-golongan (Goleman, 2007:411) yaitu : a. Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan. b. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, depresi berat. c. Rasa takut : cemas, takut, gugup khawatir, waswas, perasaan takut sekali, khawatir, waspada, sedih, tidak tenang, ngeri d. Kenikmatan : bahagia, gembira, ringan, puas, riang, senang, terhidup, bangga, kenikmatan, indrawi, takjub, rasa terpesona, rasa terpesona. e. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, kasih. f. Terkejut : terkejut, terkesiap, takjub, terpana. g. jengkel : hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, mau muntah. h. malu : rasa salah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, dan hati hancur lebur. Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada. Dalam The Nicomachean Ethics, pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter, dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik, akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu sering kali terjadi. Sebagaimana dikemukakan oleh Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikannya (Goleman, 2007 : xvi) Menurut Mayer (Goleman, 2007 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalaha, dan pasrah. Dengan demikian maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadi sia-sia. Menurut Dr. Damasio, otak emosional sama terlibatnya dalam pemikiran seperti halnya keterlbatan otak nalar. Oleh karena itu, emosi sangat penting bagi rasionalitas. Dalam liku-liku perasaan dengan pikiran, kemampuan emosional membimbing keputusan kita dari saat ke saat, bekerja bahu membahu dengan pikiran rasional, mendayahgunakan atau tidak mendayahgunakan pikiran-pikiran itu sendiri. Demikian juga, otak nalar memainkan peran eksekutif dalam emosi kita kecuali pada saat-saat emosi mencuat lepas kendali dan otak emosional berjalan tak terkendalikan. Dalam artian kita mempunyai dua otak, dua pikiran dan dua kecerdasan yang berlainan : kecerdasan rasional dan kecerdasan emosional. Keberhasilan kita dalam kehidupan ditentukan oleh keduanya tidak hanya IQ tetapi kecerdasan emosional-lah yang memegang peranan. Sungguh, intelektual tak dapat bekerja dengan sebaik-baiknya tanpa kecerdasan emosional (Goleman, 2007 : 38) Faktor Kecerdasan Emosional Goleman mengutip Salovey (Goleman, 2007 : 58-59) menempatkan kecerdasan pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional yang dicetuskannya, seraya memperluas kemampuan ini menjadi lima wilayah utama : 1. Mengenali Emosi Diri Kesadaran diri mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal penting bagi wawasan psikologi dan pemahaman diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan kita yang sesungguhnya atas pengambilan keputusan-keputusan masalah pribadi. 2. Mengelola Emosi Kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang timbul karena gagalnya keterampilan emosional dasar ini. Orang-orang yang buruk kemampuannya dalam keterampilan ini akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung, sementara mereka yang pintar dapat bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan kejatuhan dalam kehidupan. 3. Memotivasi Diri Sendiri Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri sendiri dan untuk berkreasi. Kendali diri emosional menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang. Orang-orang yang memiliki keterampilan ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apapun yang mereka kerjakan. 4. Mengenali Emosi Orang Lain Empati, kemampuan yanh juga bergantung pada kesadaran diri emosional, merupakan keterampilan bergaul. Orang yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain. 5. Membina Hubungan Seni membina hubungan, sebagian besar, merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain. Ini merupakan keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antar pribadi. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan ini akan sukses dalam bidang apapun yang mengandalkan pergaulan yang mulus dengan orang lain mereka adalah bintang-bintang pergaulan. Tidak seperti IQ. Kecerdasan emosional ini dapat meningkat dan terus ditingkatkan sepanjang kita hidup. (Agustian, 2002 : lii). Pakar EQ, Goleman berpendapat bahwa meningkatkan kualitas kecerdasan sangat berbeda dengan IQ. IQ umumnya tidak berubah selama kita hidup, maka kecakapan emosi dapat dipelajari kapan saja (Agustian, 2002 : lii) Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah kemampuan siswa untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.

Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap
Akar kata emosi adalah movere, kata kerja Bahasa Latin yang berarti “menggerakkan, bergerak”, ditambah awalan “e” untuk memberi arti “bergerak menjauh”, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi (Goleman,2007:7). Dalam kamus besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antar sesama manusia, makhluk lain dan alam sekitar (Pusat Bahasa Depdiknas, 2007:209) Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai : “himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.” (Shapiro, 1998:8). Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional. Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan. (Shapiro, 1998-10). Daniel Goleman (2007:411) menganggap emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecendrungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan hati seseorang, seingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong untuk menangis. Mengelompkokan emosi dalam golongan-golongan (Goleman, 2007:411) yaitu : a. Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan. b. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, depresi berat. c. Rasa takut : cemas, takut, gugup khawatir, waswas, perasaan takut sekali, khawatir, waspada, sedih, tidak tenang, ngeri d. Kenikmatan : bahagia, gembira, ringan, puas, riang, senang, terhidup, bangga, kenikmatan, indrawi, takjub, rasa terpesona, rasa terpesona. e. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, kasih. f. Terkejut : terkejut, terkesiap, takjub, terpana. g. jengkel : hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, mau muntah. h. malu : rasa salah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, dan hati hancur lebur. Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada. Dalam The Nicomachean Ethics, pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter, dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik, akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu sering kali terjadi. Sebagaimana dikemukakan oleh Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikannya (Goleman, 2007 : xvi) Menurut Mayer (Goleman, 2007 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalaha, dan pasrah. Dengan demikian maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadi sia-sia. Menurut Dr. Damasio, otak emosional sama terlibatnya dalam pemikiran seperti halnya keterlbatan otak nalar. Oleh karena itu, emosi sangat penting bagi rasionalitas. Dalam liku-liku perasaan dengan pikiran, kemampuan emosional membimbing keputusan kita dari saat ke saat, bekerja bahu membahu dengan pikiran rasional, mendayahgunakan atau tidak mendayahgunakan pikiran-pikiran itu sendiri. Demikian juga, otak nalar memainkan peran eksekutif dalam emosi kita kecuali pada saat-saat emosi mencuat lepas kendali dan otak emosional berjalan tak terkendalikan. Dalam artian kita mempunyai dua otak, dua pikiran dan dua kecerdasan yang berlainan : kecerdasan rasional dan kecerdasan emosional. Keberhasilan kita dalam kehidupan ditentukan oleh keduanya tidak hanya IQ tetapi kecerdasan emosional-lah yang memegang peranan. Sungguh, intelektual tak dapat bekerja dengan sebaik-baiknya tanpa kecerdasan emosional (Goleman, 2007 : 38) Faktor Kecerdasan Emosional Goleman mengutip Salovey (Goleman, 2007 : 58-59) menempatkan kecerdasan pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional yang dicetuskannya, seraya memperluas kemampuan ini menjadi lima wilayah utama : 1. Mengenali Emosi Diri Kesadaran diri mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal penting bagi wawasan psikologi dan pemahaman diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan kita yang sesungguhnya atas pengambilan keputusan-keputusan masalah pribadi. 2. Mengelola Emosi Kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang timbul karena gagalnya keterampilan emosional dasar ini. Orang-orang yang buruk kemampuannya dalam keterampilan ini akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung, sementara mereka yang pintar dapat bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan kejatuhan dalam kehidupan. 3. Memotivasi Diri Sendiri Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri sendiri dan untuk berkreasi. Kendali diri emosional menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang. Orang-orang yang memiliki keterampilan ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apapun yang mereka kerjakan. 4. Mengenali Emosi Orang Lain Empati, kemampuan yanh juga bergantung pada kesadaran diri emosional, merupakan keterampilan bergaul. Orang yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain. 5. Membina Hubungan Seni membina hubungan, sebagian besar, merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain. Ini merupakan keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antar pribadi. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan ini akan sukses dalam bidang apapun yang mengandalkan pergaulan yang mulus dengan orang lain mereka adalah bintang-bintang pergaulan. Tidak seperti IQ. Kecerdasan emosional ini dapat meningkat dan terus ditingkatkan sepanjang kita hidup. (Agustian, 2002 : lii). Pakar EQ, Goleman berpendapat bahwa meningkatkan kualitas kecerdasan sangat berbeda dengan IQ. IQ umumnya tidak berubah selama kita hidup, maka kecakapan emosi dapat dipelajari kapan saja (Agustian, 2002 : lii) Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah kemampuan siswa untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.

Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap

Akar kata emosi adalah movere, kata kerja Bahasa Latin yang berarti “menggerakkan, bergerak”, ditambah awalan “e” untuk memberi arti “bergerak menjauh”, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi (Goleman,2007:7). Dalam kamus besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antar sesama manusia, makhluk lain dan alam sekitar (Pusat Bahasa Depdiknas, 2007:209) Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai : “himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.” (Shapiro, 1998:8). Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional. Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan. (Shapiro, 1998-10). Daniel Goleman (2007:411) menganggap emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecendrungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan hati seseorang, seingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong untuk menangis. Mengelompkokan emosi dalam golongan-golongan (Goleman, 2007:411) yaitu : a. Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan. b. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, depresi berat. c. Rasa takut : cemas, takut, gugup khawatir, waswas, perasaan takut sekali, khawatir, waspada, sedih, tidak tenang, ngeri d. Kenikmatan : bahagia, gembira, ringan, puas, riang, senang, terhidup, bangga, kenikmatan, indrawi, takjub, rasa terpesona, rasa terpesona. e. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, kasih. f. Terkejut : terkejut, terkesiap, takjub, terpana. g. jengkel : hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, mau muntah. h. malu : rasa salah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, dan hati hancur lebur. Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada. Dalam The Nicomachean Ethics, pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter, dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik, akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu sering kali terjadi. Sebagaimana dikemukakan oleh Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikannya (Goleman, 2007 : xvi) Menurut Mayer (Goleman, 2007 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalaha, dan pasrah. Dengan demikian maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadi sia-sia. Menurut Dr. Damasio, otak emosional sama terlibatnya dalam pemikiran seperti halnya keterlbatan otak nalar. Oleh karena itu, emosi sangat penting bagi rasionalitas. Dalam liku-liku perasaan dengan pikiran, kemampuan emosional membimbing keputusan kita dari saat ke saat, bekerja bahu membahu dengan pikiran rasional, mendayahgunakan atau tidak mendayahgunakan pikiran-pikiran itu sendiri. Demikian juga, otak nalar memainkan peran eksekutif dalam emosi kita kecuali pada saat-saat emosi mencuat lepas kendali dan otak emosional berjalan tak terkendalikan. Dalam artian kita mempunyai dua otak, dua pikiran dan dua kecerdasan yang berlainan : kecerdasan rasional dan kecerdasan emosional. Keberhasilan kita dalam kehidupan ditentukan oleh keduanya tidak hanya IQ tetapi kecerdasan emosional-lah yang memegang peranan. Sungguh, intelektual tak dapat bekerja dengan sebaik-baiknya tanpa kecerdasan emosional (Goleman, 2007 : 38) Faktor Kecerdasan Emosional Goleman mengutip Salovey (Goleman, 2007 : 58-59) menempatkan kecerdasan pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional yang dicetuskannya, seraya memperluas kemampuan ini menjadi lima wilayah utama : 1. Mengenali Emosi Diri Kesadaran diri mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal penting bagi wawasan psikologi dan pemahaman diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan kita yang sesungguhnya atas pengambilan keputusan-keputusan masalah pribadi. 2. Mengelola Emosi Kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang timbul karena gagalnya keterampilan emosional dasar ini. Orang-orang yang buruk kemampuannya dalam keterampilan ini akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung, sementara mereka yang pintar dapat bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan kejatuhan dalam kehidupan. 3. Memotivasi Diri Sendiri Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri sendiri dan untuk berkreasi. Kendali diri emosional menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang. Orang-orang yang memiliki keterampilan ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apapun yang mereka kerjakan. 4. Mengenali Emosi Orang Lain Empati, kemampuan yanh juga bergantung pada kesadaran diri emosional, merupakan keterampilan bergaul. Orang yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain. 5. Membina Hubungan Seni membina hubungan, sebagian besar, merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain. Ini merupakan keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antar pribadi. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan ini akan sukses dalam bidang apapun yang mengandalkan pergaulan yang mulus dengan orang lain mereka adalah bintang-bintang pergaulan. Tidak seperti IQ. Kecerdasan emosional ini dapat meningkat dan terus ditingkatkan sepanjang kita hidup. (Agustian, 2002 : lii). Pakar EQ, Goleman berpendapat bahwa meningkatkan kualitas kecerdasan sangat berbeda dengan IQ. IQ umumnya tidak berubah selama kita hidup, maka kecakapan emosi dapat dipelajari kapan saja (Agustian, 2002 : lii) Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah kemampuan siswa untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.

Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap

Akar kata emosi adalah movere, kata kerja Bahasa Latin yang berarti “menggerakkan, bergerak”, ditambah awalan “e” untuk memberi arti “bergerak menjauh”, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi (Goleman,2007:7). Dalam kamus besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antar sesama manusia, makhluk lain dan alam sekitar (Pusat Bahasa Depdiknas, 2007:209) Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai : “himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.” (Shapiro, 1998:8). Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional. Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan. (Shapiro, 1998-10). Daniel Goleman (2007:411) menganggap emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecendrungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan hati seseorang, seingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong untuk menangis. Mengelompkokan emosi dalam golongan-golongan (Goleman, 2007:411) yaitu : a. Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan. b. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, depresi berat. c. Rasa takut : cemas, takut, gugup khawatir, waswas, perasaan takut sekali, khawatir, waspada, sedih, tidak tenang, ngeri d. Kenikmatan : bahagia, gembira, ringan, puas, riang, senang, terhidup, bangga, kenikmatan, indrawi, takjub, rasa terpesona, rasa terpesona. e. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, kasih. f. Terkejut : terkejut, terkesiap, takjub, terpana. g. jengkel : hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, mau muntah. h. malu : rasa salah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, dan hati hancur lebur. Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada. Dalam The Nicomachean Ethics, pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter, dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik, akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu sering kali terjadi. Sebagaimana dikemukakan oleh Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikannya (Goleman, 2007 : xvi) Menurut Mayer (Goleman, 2007 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalaha, dan pasrah. Dengan demikian maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadi sia-sia. Menurut Dr. Damasio, otak emosional sama terlibatnya dalam pemikiran seperti halnya keterlbatan otak nalar. Oleh karena itu, emosi sangat penting bagi rasionalitas. Dalam liku-liku perasaan dengan pikiran, kemampuan emosional membimbing keputusan kita dari saat ke saat, bekerja bahu membahu dengan pikiran rasional, mendayahgunakan atau tidak mendayahgunakan pikiran-pikiran itu sendiri. Demikian juga, otak nalar memainkan peran eksekutif dalam emosi kita kecuali pada saat-saat emosi mencuat lepas kendali dan otak emosional berjalan tak terkendalikan. Dalam artian kita mempunyai dua otak, dua pikiran dan dua kecerdasan yang berlainan : kecerdasan rasional dan kecerdasan emosional. Keberhasilan kita dalam kehidupan ditentukan oleh keduanya tidak hanya IQ tetapi kecerdasan emosional-lah yang memegang peranan. Sungguh, intelektual tak dapat bekerja dengan sebaik-baiknya tanpa kecerdasan emosional (Goleman, 2007 : 38) Faktor Kecerdasan Emosional Goleman mengutip Salovey (Goleman, 2007 : 58-59) menempatkan kecerdasan pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional yang dicetuskannya, seraya memperluas kemampuan ini menjadi lima wilayah utama : 1. Mengenali Emosi Diri Kesadaran diri mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal penting bagi wawasan psikologi dan pemahaman diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan kita yang sesungguhnya atas pengambilan keputusan-keputusan masalah pribadi. 2. Mengelola Emosi Kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang timbul karena gagalnya keterampilan emosional dasar ini. Orang-orang yang buruk kemampuannya dalam keterampilan ini akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung, sementara mereka yang pintar dapat bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan kejatuhan dalam kehidupan. 3. Memotivasi Diri Sendiri Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri sendiri dan untuk berkreasi. Kendali diri emosional menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang. Orang-orang yang memiliki keterampilan ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apapun yang mereka kerjakan. 4. Mengenali Emosi Orang Lain Empati, kemampuan yanh juga bergantung pada kesadaran diri emosional, merupakan keterampilan bergaul. Orang yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain. 5. Membina Hubungan Seni membina hubungan, sebagian besar, merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain. Ini merupakan keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antar pribadi. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan ini akan sukses dalam bidang apapun yang mengandalkan pergaulan yang mulus dengan orang lain mereka adalah bintang-bintang pergaulan. Tidak seperti IQ. Kecerdasan emosional ini dapat meningkat dan terus ditingkatkan sepanjang kita hidup. (Agustian, 2002 : lii). Pakar EQ, Goleman berpendapat bahwa meningkatkan kualitas kecerdasan sangat berbeda dengan IQ. IQ umumnya tidak berubah selama kita hidup, maka kecakapan emosi dapat dipelajari kapan saja (Agustian, 2002 : lii) Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah kemampuan siswa untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.

Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap

Komentar